Mattompang Arajang ” Khasanah Budaya Bone”

Mattompang Arajang merupakan ritual pencucian benda-benda pusaka Kerajaan Bone di tempat benda pusaka (Arajang) kembali akan digelar Rabu, 6 April 2016 nanti.

Ritual ini digelar di Museum Arajang, Rumah Jabatan Bupati Kabupaten Bone untu menyambut Hari Jadi Kabupaten Bone. Pencucian benda pusaka yang disebut Mattompang ini digelar dengan menggunakan tujuh air sumur yang berada di Kabupaten Bone.

Senin, 4 April 2016, Pemerintah Kabupaten Bone mulai melakukan pra Pra Mattompang yang dipimpin langsung oleh Bupati Bone DR H. Andi Fahsar Mahdin Padjalangi, turut hadir dalam kegiatan ini, diantaranya, Wakil Bupati Bone Ambo Dalle, Ketua DPRD Bone Andi Akbar Yahya, Sekkab Bone, Andi Surya Dharma serta Ketua Dewan Adat Kerajaan Bone Andi Baso Ahmad.

Benda-benda pusaka yang ditompang meliputi Kelewang LaTea RiDuni, Keris La Makkawa, Tombak La Sagala, Kelewang Alameng Tata Rapeang yang merupakan senjata Raja Bone ke XV Arung Palakka dalam menghadapi setiap peperangan.

“Teddung Pulaweng” atau payung emas yang merupakan tanda persaudaraan dari Raja Pariamang kepada Raja Bone ke XV Latenri Tatta Arung Palakka. Serta “Sembang Pulaweng” atau Selempang Kerajaan yang berupa untaian padi dari emas murni seberat 5 kilogram dan sepanjang 170 cm.

Ritual Mattompang tersebut dilakukan dalam beberapa tahap. Dimulai dengan Mallekke Toja yaitu pengambilan air di tujuh sumur untuk pembersihan arajang beberapa hari sebelumnya. Dua di antaranya berasal dari sumur kerajaan yaitu sumur laccokkong di Laccokkong dan sumur “ittello” di Lassonrong serta lima sumur bissu yang terletak di Lampoko.

Ritual kemudian dilanjutkan dengan Matteddu Arajang atau mengeluarkan benda-benda pusaka dari tempatnya yang kemudian dibawa ke tempat Mattompang oleh para bissu untuk diperlihatkan kepada Bupati Bone dan jajaran pemerintah setempat, serta undangan lainnya. Ritual ini disebut diappesabbiangngi.

Tahapan selanjutnya disebut “memmang to rilangi” atau kata-kata yang diucapkan oleh bissu yang berisi permohonan izin untuk membersihkan arajang. Dilanjutkan dengan inti acara yaitu “massossoro atau mattompang arajang” yang bermakna mencuci benda-benda pusaka yang dilakukan oleh empat orang panre bessi (pandai besi kerajaan) diiringi dengan sere alusu atau gerakan-gerakan yang dilakukan oleh tujuh bissu masing-masing bali sumange, ana beccing, dan kancing diiringi genderang.

Payung Pulaweng, Keris Lamakkawa, Pedang Latea Riduni, tombak Lasagala, dan Selempang Kerajaan merupakan syarat perlengkapan utama dalam setiap pelantikan Raja-Raja di tana Bone seperti yang ditegaskan dalam Lontara Bugis yang menjelaskan tanda Mangkau (Raja) Bone adalah yang memakai Lamakkawa dan Latea Ri Duni, bertongkat tombak Lasagala, mengambil sawah di Lacaloko serta dipayungi payung emas.

Mattompang bukan hanya sekedar prosesi tapi lebih kepada pelestarian budaya dan wujud dari rasa cinta kepada sejarah dan kebudayaan Kerajaan Bone.

Tinggalkan Balasan